Attend Spring Meetings on Development topics from Apr 17-21. Comment and engage with experts. Calendar of Events


Syndicate content

Social Development

Lima pembelajaran dari Indonesia tentang penyediaan perumahan yang terjangkau

Dao Harrison's picture
Available in english

Berkat program subsidi pemerintah, Dewi baru saja menjadi pemilik rumah untuk pertama kalinya. Tahun lalu, Dewi pindah ke rumah barunya di Yogyakarta. Ia saat itu berpikir: semuanya sempurna.

Ternyata kenyataannya tidak demikian. Rumah Dewi berjarak satu jam dari pusat kota, jauh dari daerah perkantoran,  pusat perbelanjaan, dan sekolah untuk kedua anaknya. Dua tahun setelah perumahan selesai dibangun, lebih dari setengah rumah di sana masih kosong. Karena rumah tidak terhubung dengan sistem air setempat, dua kali seminggu Dewi harus membeli air. Saat musim banjir, Dewi mengalami kesulitan untuk mencapai rumahnya.




Penyediaan perumahan yang terjangkau dan memadai telah menjadi prioritas kebijakan utama pemerintah Indonesia dengan diluncurkannya program Satu Juta Rumah (One Million Homes). Berbagai upaya sebelumnya untuk memenuhi permintaan perumahan yang terjangkau – gabungan dari adanya  permintaan  baru secara tahunan dan pemenuhan kekurangan perumahan yang belum terlaksana - belum secara efektif membawa dampak pada skala yang diperlukan.
 
 
Sumber:  Kementerian Pekerjaan Umum, Indonesia

Tapi haruskah jumlah kepemilikan rumah menjadi indikator tunggal program subsidi perumahan yang sukses? Mungkinkah ada program yang memenuhi kebutuhan Pemerintah untuk tetap efektif biaya secara fiksal maupun ekonomi, dan sekaligus dapat merespons pasar swasta dan juga kebutuhan warga?

Saat ini berbagai pilihan sedang dieksplorasi. National Affordable Housing Program Project (NAHP) yang baru disetujui misalnya, bertujuan untuk berinovasi dalam pasar perumahan yang terjangkau dengan mengatasi kemacetan dan secara aktif melibatkan sektor swasta dalam melayani berbagai segmen yang belum tersentuh. Sejauh ini, upaya dari Indonesia ini memberikan pelajaran berharga, yaitu:

LGBTI ในประเทศไทย: ข้อมูลใหม่แสดงเส้นทางสู่การเป็นหนึ่งเดียว กับสังคมยิ่งกว่าที่เคย

Ulrich Zachau's picture
Also available in: English

พรุ่งนี้เป็นวันสากลยุติความเกลียดกลัวคนรักเพศเดียวกัน คนข้ามเพศ และคนรักสองเพศ แนวคิดหลักของงานในวันสำคัญปีนี้คือ ครอบครัว ครอบครัวเป็นสิ่งสำคัญสำหรับชีวิตพวกเราทุกคน เป็นสิ่งที่เราใส่ใจเป็นลำดับแรก และเป็นสิ่งสำคัญกว่าสิ่งอื่นใด  

LGBTI in Thailand: New data paves way for more inclusion

Ulrich Zachau's picture
Also available in: ภาษาไทย

Tomorrow is the International Day against Homophobia, Transphobia, and Biphobia. This year, the global theme for this important day is family. Family is vital for all of us, it is what we care about first and foremost.  

Festival Desa Inovatif Tampilkan Ide-ide Segar Penggunaan Dana Desa

Hera Diani's picture
Also available in: English


Di siang hari yang terik itu, sejumlah jambang jongkok menyambut pengunjung Taman Budaya di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
 
Para pengunjung tersebut tidak sedang mencari jamban baru, bukan pula sedang melakukan proyek perbaikan rumah. Mereka termasuk dari 350 warga desa yang ‘berbelanja’ ide-ide dan inovasi-inovasi untuk meningkatkan layanan dan infrastruktur dasar di desa-desa asal mereka.
 
Festival Desa Inovatif 2017 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, bekerja sama dengan Program Generasi Cerdas dan Sehat dari Kementerian Desa. Festival tersebut menampilkan solusi-solusi inovatif untuk menanggulangi beberapa kendala pembangunan yang mendesak yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat desa.

Innovation festival provides fresh ideas on how to use vital funds in Indonesian villages

Hera Diani's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



One recent scorching afternoon, a display of colorful squat toilets welcomed curious visitors in the main park of the city of Mataram, in Indonesia’s West Nusa Tenggara province.
 
These visitors were not looking to buy new toilet bowls, nor were they working on home improvement projects. They were among 350 villagers who went ‘shopping’ for ideas and innovations to improve basic services and infrastructure in their home villages.
 
The 2017 Village Innovation Festival was organized by the provincial government of West Nusa Tenggara, in collaboration with the Ministry of Village's Generasi Cerdas dan Sehat Program.The festival highlighted innovative solutions to address some of the most pressing development challenges faced by village communities.

How do we achieve sustained growth? Through human capital, and East Asia and the Pacific proves it

Michael Crawford's picture
Students at Beijing Bayi High School in China. Photo: World Bank


In 1950, the average working-age person in the world had  almost three years of education, but in East Asia and Pacific (EAP), the  average person had less than half that amount. Around this time, countries in  the EAP  region put themselves on a path that focused on growth  driven by human capital. They made significant and steady investments in  schooling to close the educational attainment gap with the rest of the world. While  improving their school systems, they also put their human capital to work in  labor markets. As a result, economic growth has been stellar: for four decades  EAP has grown at roughly twice the pace of the global average. What is more, no  slowdown is in sight for rising prosperity.

High economic growth and strong human capital accumulation  are deeply intertwined. In a recent paper, Daron Acemoglu and David Autor explore  the way skills and labor markets interact: Human capital is the central  determinant of economic growth and is the main—and very likely the only—means  to achieve shared growth when technology is changing quickly and raising the  demand for skills. Skills promote productivity and growth, but if there are not  enough skilled workers, growth soon chokes off. If, by contrast, skills are abundant and  average skill-levels keep rising, technological change can drive productivity  and growth without stoking inequality.

Listening to women while planning for development: Real life experience from China

Aimin Hao's picture
Also available in: 中文
“Women hold up half of the sky,” Chairman Mao said. So when it comes to development, it is important to listen to women – who generally make up half of our beneficiaries – and understand their views, preferences and needs. As we celebrate International Women’s Day this week, I’m sharing some of my experience helping to increase gender awareness in World Bank-supported projects in China.

When we designed activities for the Ningbo Sustainable Urbanization Project, we carried out consultations with groups of men and women to make sure the proposed public transport system benefitted both equally. It was interesting to find that most men wanted wider roads with higher speed, while women cared more about the location of bus stops and adequate lighting on the bus.. Thanks to these consultations, we adjusted the locations of bus stops to be closer to the entrance of residential communities and reduce walking distance for bus riders. In response to the light request, we made sure that new buses purchased for the project had sufficient lighting for night use.
Conducting consultation with local women in Qianhuang village, Ningo, China.

在设计发展项目的同时倾听妇女心声:来自中国的真实体验

Aimin Hao's picture
Also available in: English
毛主席曾指出:“妇女能顶半边天“。具体到设计发展项目而言,重要的是要倾听妇女心声,了解其意见、偏好和需求, 因为我们力求妇女占世行贷款项目受益人的半数 。 鉴于本周我们庆祝国际妇女节,我谨分享我帮助提升世行对华贷款项目下性别意识方面的部分经验。

当初在设计宁波可持续城镇化项目有关活动过程中,我们 与多个男性和女性小组开展了磋商,目的在于确保拟建公共交通系统平等惠及男女两性。有趣的是,我们发现,男性大多希望修建速度更快、路面更宽的道路,而女性则更多关注公交车站点位置和车上配有足够的照明设施……。得益于此类磋商,我们调整了站点位置,使其距居民小区入口处更近,减少乘客步行距离。我们确保了本项目下新购车辆配有足够的夜间用照明设施。
项目组成员与宁波市宁海县前黄村村民交谈

Phenomenal development: New MOOC draws economic policy lessons from South Korea’s transformation

Sheila Jagannathan's picture

The World Bank Group’s Open Learning Campus (OLC) launched a free Massive Open Online Course (MOOC) today — Policy Lessons from South Korea’s Development — through the edX platform, with approximately 7,000 global learners already registered. In this MOOC, prominent representatives of academic and research institutions in South Korea and the United States narrate a multi-faceted story of Korea’s economic growth. 
 
Why focus on South Korea? South Korea's transformation from poverty to prosperity in just three decades was virtually miraculous. Indeed, by almost any measure, South Korea is one of the greatest development success stories. South Korea’s income per capita rose nearly 250 times, from a mere $110 in 1962 to $27,440 in 2015. This rapid growth was achieved despite geopolitical uncertainties and a lack of natural resources. Today, South Korea is a major exporter of products such as semiconductors, automobiles, telecommunications equipment, and ships.

Source: World Development Indicators, 12/16/2016

Satu Peta: mempercepat administrasi pertanahan terpadu untuk Indonesia

Anna Wellenstein's picture
Also available in: English
Foto: Curt Carnemark / World Bank

Hutan-hutan primer telah lama hilang dari lingkungan desa Teluk Bakung di pinggiran Pontianak, ibukota Kalimantan Barat di Indonesia. Hal ini tampak ketika saya tiba di wilayah tersebut pada akhir November 2016, sebagai bagian dari kunjungan lapangan. Kami melihat bagaimana sebagian besar penduduk desa telah meninggalkan pertanian yang berat di lahan gambut untuk bekerja pada perkebunan-perkebunan besar kelapa sawit dan ladang kelapa sawit mereka sendiri. Yang lain memilih berinvestasi dalam produksi sarang burung yang menguntungkan. Namun mereka melakukannya di tengah-tengah tata kelola penggunaan lahan yang membingungkan: demarkasi batas wilayah kawasan hutan dan wilayah administratif tidak lengkap, sementara kelompok kepentingan masyarakat dan pihak berwenang memperdebatkan sejarah alokasi areal konsesi perkebunan. Kumpulan data publik menunjukkan keragaman penggunaan lahan dan hutan di wilayah tersebut, termasuk cagar alamnya. Namun dalam kenyataannya, hampir seluruh lahan yang ada semakin dikhususkan untuk produksi kelapa sawit. 

Pages